Pohon pun bisa menangis

4 06 2009

Pohon pun bisa menangis
Jika kita ditimpa kemalangan atau musibah, tentu saja kita akan merasa sedih, bahkan sampai menangis. Sama halnya dengan manusia sebagai makhluk hidup, ternyata pohon pun bisa menangis. Salah satu pohon yang dapat menangis itu bernama pohon Dillenia. Orang Sunda menyebutnya dengan pohon Simpur atau Sempur, sedangkan orang Jawa menamakannya pohon Junti. Tanaman ini termasuk jenis kayu dari keluarga dilleniaceae .
Jenis pohon ini tidak seperti pohon Mahoni atau pohon Pinus, yang asal muasalnya diketahui dari negara lain. Pohon Simpur ini berasal dari Indonesia. Kemudian para ahli memberinya nama Dillenia aurea atau Dillenia spigata dan lain-lain untuk sebutan pohon ini, sedangkan yang berbeda hanya spesiesnya.
Ciri-ciri Pohon ini memiliki tinggi mencapai 27 meter, dengan diameter batang 70 cm. Bagian kayunya memang tidak begitu kuat, satu tingkat di bawah pohon Jati. Tumbuh pada ketinggian 600 meter di atas permukaan laut, dan agak jarang terdapat. Sebagaimana halnya pada jenis pohon-pohon lain, keluarga pohon Dillenia ini memiliki sifat-sifat tersendiri yang menyebabkan pohon ini dikelompokkan dalam satu famili. Karena sifat-sifat yang khas inilah menyebabkan pohon jenis ini bisa menangis.
Pada dasarnya, kayu Dillenia ini mempunyai serat-serat memanjang yang tidak putus-putus dari bawah sampai ke ujung batang, dan memiliki dinding-dinding serat yang sedikit alot. Adanya pengisapan zat-zat makanan dari daun yang cukup kuat, serta tekanan dari akar yang relatif sangat kuat juga, menyebabkan tekanan udara di dalam serat-serat (berupa pembuluh-pembuluh) tadi menjadi lebih besar daripada tekanan udara di sekitarnya. Sedangkan mengenai penyebab tekanan udara yang lebih besar ini pun sampai sekarang pendapat para ahli masih berbeda-beda. Tetapi yang jelas begitulah adanya.
Jika cuaca agak panas, maka tekanan udara ini akan lebih besar lagi, hal ini akan menyebabkan tekanan udara di sekitarnya agak berkurang. Jika suatu saat pohon ini dilukai, dengan cara ditebang atau dicongkel-congkel dengan pisau, maka pembuluh-pembuluh (di dalam serat-serat) tadi akan terluka, dan putus-putus. Akibatnya udara di dalam batang akan menekan keluar. Tetapi, karena lubang-lubang pembuluhnya berukuran sangat sempit, maka menyebabkan timbulnya bunyi mendesis yang terus- menerus, sampai tekanan udara di dalam kayu sama dengan tekanan udara di luar. Itulah sebabnya bunyi mendesis inilah yang kedengaran ke telinga kita seperti orang yang sedang menangis.
Kita dapat mencobanya dengan mengiris pohon ini melintang dari batang sampai sepanjang kurang lebih 2,5-3 cm, dan tidak perlu terlalu dalam, cukup satu cm saja. Kemudian, tempelkan telinga kita dekat-dekat pada bagian batang yang terluka tadi. Tentu akan terdengar suara menangis dari pohon ini. Dan, sering kali suara tangisan ini disusul dengan keluarnya cairan berwarna agak kemerah-merahan dari bekas luka pada bagian batang yang diiris tadi. Itulah yang diibaratkan sebagai darahnya. Kemudian kita bandingkan kejadian ini jika kita mematahkan batang tebu atau mengunyahnya dan mengisapnya. Maka akan terdengar juga sedikit suara mendesis atau mendesah. Tetapi yang keluar bukan udara, melainkan air tebu yang rasanya manis.
Sumber : plantamor.com/


Aksi

Information

One response

6 06 2009
Irsyad Muhammad Bastaman

Halooo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: